theatlantic
Until you’re about the age of twenty, you read everything, and you like it simply because you are reading it. Then between twenty and thirty you pick what you want, and you read the best, you read all the great works. After that you sit and wait for them to be written. But you know, the least known, the least famous writers, they are the better ones.

sie ist sehr huubs. Sehr gut. Ich durchause lieben sie. Schade, sie gehoort an er. Ich musse abwarte?

Dia sangat cantik. Sangat baik. Aku sangat mencintainya. Sayang sekali, dia menjadi miliknya. Haruskah aku menunggu?

Alarm telepon selulerku berbunyi. Aku terlambat bangun pagi ini. Alarm yang kuatur untuk berbunyi pukul tujuh pagi mendengking-dengking. Ah, ini berarti aku melewatkan alarm subuh-ku.

Salat subuh kesiangan, ah bukan hal yang mengherankan. Aku sering melakukan ini. Semalam aku baru terlelap pukul tiga, meninggalkan Daryl Dixon dari The Walking Dead menontonku tidur. Yah, hal ini sudah sering terjadi

Aku pernah membaca hadis yang bunyinya begini,

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Sejujurnya, aku sedang berusaha memperbaiki akhlak-ku akhir-akhir ini, aku tak tahu mengapa, namun aku hanya merasa banyak dikelilingi oleh banyak orang beriman.

Tujuan khusus? Ya mungkin akan kuungkap lain kali. Aku memang tengah rajin berdoa untuk suatu hal.

Kutulis hal diatas di ruang publik seperti ini, agar banyak yang mengingatkan dan mengamini.

Panggilan Tuhan

Ini pukul 4:15 pagi. Suara-suara penyeru mulai bergema. Memanggil umat Tuhan untuk menghadap-Nya melalui rangkaian gerakan yang diajarkan 1400-an tahun lalu oleh Nabi Agung Muhammad SAW.
Bukan tanpa alasan pagi buta begini Allah menyuruh manusia untuk bangun, mengambil air wudhu yang dingin, membasuh beberapa bagian tubuh, dan melaksanakan salat. Bukan tanpa alasan.
Alasan yang kutangkap adalah, manusia harus menyambut sang mentari, menyambut pagi yang gilang gemilang setelah malam yang gelap terhapus. Memulai hidup baru setelah lelap antara hidup dan mati.
Salat subuh mengawali hari, mencoba memberikan suntikan semangat dan aura positif untuk menjalani hari yang tak pernah pasti.
Itulah pemahamanku mengenai urgensi perintah salat subuh.
Jujur, aku bukanlah muslim yang taat, seringkali subuh terlewat, atau sengaja terlewat.
Di ruang sebelah masih digelar wawancara. Di bawah siku ku ada bantal. Ah alamat bisa ketiduran. Sebaiknya aku segera angkat siku.
Demikianlah.

Catatan sebelum tidur

2014-1-4
05.25
Aku belum juga terpejam. Kopi murah yang kubeli jam setengah dua lalu baru saja habis. Tidak terlalu enak. Namun cukup untuk mengganjal kantung mata.

Sampai hari ini kadang aku tak begitu mengerti mengapa aku harus begadang. Mungkin satu-satunya alasan yang logis adalah agar tak terlewat ibadah salat Subuh yang mulia itu. Namun pasti ada alasan lain, mengapa aku masih terjaga, sementara teman-teman sekamarku sudah mendengkur pulas beberapa jam yang lalu.

Atau mungkin karena komputerku. Komputer ini meski sudah usang, masih bagus performanya. Masih sanggup untuk menonton film-film yang tak mampu kutonton di bioskop. Ah entahlah. Mungkin bukan itu juga.

Memikirkan seseorang? Mungkin juga tidak. Ah entahlah. Kucoba saja ketik hal tak jelas ini di blog. Lalu aku mencoba tidur..