Zionisme Dalam Perspektif Yahudi Orthodoks oleh Akhmad Sahal

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya (Akhmad Sahal ) tentang “Zionisme, pro Kontranya di Kalangan yahudi.”http://mendarasislam.blogspot.com/2013/07/zionisme-pro-dan-kontranya-di-kalangan.html


Pembahasan tetap tentang respon kaum yahudi terhadap Zionisme, tapi fokusnya tidak tentang kaum sekuler yahudi, melainkan kaum religiusnya. Sebelum masuk ke persoalan zionisme, ada baiknya kita bahas dulu apa dan siapa kaum yahudi orthodoks itu.?

"Orthodox judaism" mengacu pada reaksi penolakan sebagian kaum yahudi terhadap Reform Judaism dan yahudi sekuler di Eropa awal abad 19. Dalam tulisan saya di atas, sudah paparkan bagaimana reaski kaum yahudi Eropa terhadap Pencerahan dan modernitas. Bagi sebagian kaum yahudi, Pencerahan adalah kesempatan untuk mendapatkan emansipasi penuh sebagai warga negara

Kaum Yahudi yang antusias dengan modernitas yang tergabung dalam Haskalah (Pencerahan Yahudi) menyerukan tafsir ulang total terhadap Judaisme. Dari situlah muncul Reform Judaism, yang ditandai dengan berdirinya synagog “liberal” di Hamburg-Jerman awal abad 19.

Prinsip utama Reform: ke-yahudi-an dipandang sebagai sistem etika, ketimbang sistem hukum agama (halakhah). Kaum Reform berpendapat, yang sakral hanyalah “Torah tertulis” (Perjanjian Lama). selebihnya adalah formulasi manusia. Artinya, di mata Reform, hukum dan tradisi yahudi, yang dasarnya Torah lesan (Talmud) bisa direvisi, atau diubah sesuai zaman. Atas dasar itu, kaum Reform melancarkan pembaruan agama yahudi, misalnya mengganti bahasa hebrew/Ibrani dalam ibadah dengan bahasa jerman. Aturan-aturan makanan minuman (kashrut), khitan, ornamen sinagog dan lain-lain juga direvisi, agar kompatibel dengan modernitas.

Pembaharuan Judaisme oleh Reform mendapat sambutan luas di Jerman, tetapi juga penolakan dan kritik tajam. Penolakan keras datang dari kelompok yang disebut kaum Orthodox, yang kemudian terpecah dalam dua aliran utama. Di mata kaum yahudi orthodox, Reform sudah melakukan “protestantisasi” terhadap judaisme, dan hal itu dianggap kebablasan. Dengan melucuti judaisme dari tradisi dan hukum agama (hakakhah). Reform mereduksi Judaisme sebagai semata iman personal (Protestanisasi)

Sebagai reaksi terhadap Reform, kaum yahudi orthodox menegaskan komitmennya terhadap halakah dan tradisi yahudi, yang berdasar Talmud. Keyahudian bagi kaum orthodox: kepatuhan terhadap hukum agama yahudi (halakhah), yang mengatur seluruh aspek hidup. Tapi bagaimana memaknai “patuh terhadap halakhah” dalam konteks modern? Orthodox Judaism juga terbelah jadi dua aliran utama.

Aliran pertama adalah neo-orthodoks yang dipelopori rabbi hirsch di jerman. semboyannya: Torah im derekh Eretz, Artinya, Torah dengan jalan atau cara dunia. Torah memang mengatur semua aspek hidup. Tak ada pemisahan agama dan dunia, tapi cara hidup yang berbasis Torah tersebut harus juga mengakomodasi cara hidup duniawi yang modern juga, Dengan kata lain, kaum neo-orthodox tidak menolak modernitas secara serta merta, tetapi modernitas tersebut mesti diberi muatan religius, neo orthodox patuh terhadap halakhah, dan tidak menolak modernitas, tapi modernitas tersebut diberi cita rasa yahudi.

Sikap tersebut berbeda dengan aliran ultra-orthodoks, yang juga disebut haredim (mereka yang gemetar bila menzikirkan Yahweh) kaum ultra orthodox menekankan kepatuhan terhadap hukum yahudi secara ketat, dan menarik garis batas dengan modernitas. Dipelopori oleh rabbi chatam sofer, kaum ultra-orthodox bersemboyan: hadash asur min ha Torah: kebaruan itu dilarang dalam Torah. Kaum ultra Orthodo, banyak di Hungaria dan Eropa Timur lain, menegaskan identitas keyahudian melalui pakaian, bahasa hebrew . Singkatnya, dalam rangka menolak Reform, kaum yahudi orthodox menegaskan pentingnya identitas keyahudian berbasis halakhah.

Bagaimana kaum Yahudi Orthodox merespon Zionisme, gerakan nasionalis yahudi yang muncul pertengahan abad 19? Zionisme adalah gerakan nasionalisme yahudi yang diilhami romantisisme Jerman abad 19, oleh karena itu Zionisme berwatak sekuler. Zionisme yang dirintis Herzl muncul sebagai respon terhadap antisemitisme yang marak di Eropa. Menurut herzl, kaum yahudi jadi target serangan antisemit karena sebagai bangsa mereka tidak punya negara sendiri. Herzl lantas menawarkan ide negara yahudi, dengan model negara swiss yang sekuler. Menurut herzl, di negara yahudi yang dibangun di tanah zion wewenang rabbi dibatasi, tidak boleh mengendalikan kehidupan publik yahudi. Herzl mendambakan negara modern yang memisahkan agama dan negara.

Bagaimana respon kaum agama di kalangan yahudi (orthodox dan Reform) terhadap zionisme? Menarik untuk dicatat, secara umum kaum Reform dan Orthodoks sama-sama menolak Zionisme, meski dengan alasan yang berbeda. Kaum Reform menolak zionisme, karena bagi mereka, kebangsaan yahudi hanyalah konstruksi sejarah, yang tidak permanen dan bisa ditafsir ulang. Kaum Reform melihat keyahudian tak lagi sebagai bangsa, melainkan individu-individu. Ini sejalan dengan prinsip individualisme modern. kaum Reform memaknai Zion tidak lagi sebagai tanah israel sebagai tanah air di mana mereka tinggal. Kota berlin sama dengan yerusalem baru mereka. Itu sejalan dengan prinsip patriotisme, loyalitas kaum Reform lebih kepada tanah airnya di Eropa.

Selain itu, kaum Reform memahami messianisme yahudi tidak lagi secara personal, tapi lebih sebagai zeitgeist (spirit zaman) yang impersonal. Bagi kaum Reform, Pencerahan yang berbasis kemanusiaan universal adalah bentuk modern dari messianisme. Sejalan dengan kaum Reform, kaum yahudi orthodox, neo dan ultra, menolak Zionisme, tapi dengan alasan yang berbeda sama sekali.

Kaum yahudi Orthodox sepakat dengan zionis dalam hal bahwa yahudi adalah bangsa, tetapi dasarnya bukan nasionalisme romantis jerman yang sekuler. Kebangsaan Yahudi bagi kaum Orthodox adalah kebangsaan yang berbasis ketaatan terhadap Torah dan hukum agama. Kaum yahudi orthodox juga menolak keras zionisme karena dianggap sebagai gerakan yang “mengkudeta” otoritas Tuhan dalam hal messiah.

Dalam keyakinan orthodox, migrasi ke tanah israel hanya absah kalo dipimpin sang messiah yang diutus Tuhan. Kapan Messiah tersebut datang? hanya Tuhan yang tahu, bangsa Yahudi hanya bisa menunggu di tanah eksil mereka. Kaum Yahudi orthodox berpegang pada “tiga janji/kontrak dengan Tuhan” yang tertuang dalam talmud. Tiga janji tersebut terdiri dari:

1. Kaum yahudi tidak boleh meninggalkan tanah eksilnya menuju zion (israel) secara massal.
2. Bangsa yahudi tidak boleh memberontak terhadap pemerintahnya di tanah diaspora.
3. Kaum non yahudi dijamin Tuhan tak menyakiti bangsa yahudi secara berlebihan.

Tiga janji itulah yang dilanggar oleh kaum zionis. Dengan menyerukan migrasi ke tanah Israel, kaum zionis dengan lancang mendahului takdir. Bagi yahudi orthodox, zionisme adalah bid’ah yang justru lebih berbahaya ketimbang Reform. Mengapa demikian? Reform, menurut orthodox, masih setia dengan judaisme, hanya keliru dalam memaknainya. Mudah ditandai, dan ini lah bedanya dengan kaum Zionis.

Kaum zionis menegaskan yahudi sebagai bangsa, yang sejalan dengan orthodox, hanya dasarnya bukan Torah tapi nasionalisme modern. Dengan kata lain, di satu sisi kaum zionis mengamini kaum orthodox, tapi menyimpang darinya. Semacam “musuh dalam selimut”. Karena itulah kaum yahudi orthodox menolak keras zionisme. Sikap ini masih dipegang oleh Neturei Karta sampe skrg.

Lantas bagaimana kita menjelaskan fakta bahwa bahkan di israel sendiri banyak juga kalangan yahudi orthodox? .Meski secara umum yahudi orthodoks menolak zionisme, ada juga komunitas orthodoks yang hidup di israel, karena beberapa alasan. Sejak dulu ada yahudi orthodoks yang migrasi ke Israel, dengan alasan agama. Bagi mereka, tanah Israel, bangsa israel dan Torah adalah satu kesatuan. Simak, misalnya doa yahudi sejak ribuan tahun lalu, be shana haba’a le yerushalaim (tahun depan ke yerusalem). Kaum Reform, yang menganggap Eropa Pencerahan sebagai yerusalem baru, memaknai doa itu sebagai metafor. Tapi tidak bagi kaum yahudi orthodox. Bagi yahudi orthodoks, ke tanah zion tetap merupakan cita-cita religious. Tapi tidak dalam format sekuler ala zionisme.

Alasan lain, ketika pembantaian oleh Nazi terhadap kaum yahudi terjadi, yang paling banyak menjadi korban adalah kaum orthodox. Karena itulah kaum yahudi orthodoks punya trauma kolektif yang akut terhadap holocaust. Ini memperngaruhi sikap mereka terhadap zionisme. Menariknya, semakin banyak kaum yahudi orthodoks yang secara de facto menerima berdirinya negara israel, tetapi tidak secara de jure. Mereka tetap menganggap zionisme sebagai bidah, tetapi apa boleh buat, mereka tak bisa berbuat apa-apa juga untuk menentangnya, sehingga banyak yahudi orthodoks yang menerima negara israel, tetapi bukan sebagai negara yahudi yang “kosher”/ menurut halakhah.

Negara israel diterima, tapi dianggap sebagai negara biasa sebagaimana dalam diaspora. Dengan kata lain, mereka merasa jadi eksil di tanah israel. Respon orthodoks pun bervariasi, ada yang tetap mempertahankan segregasi/pemisahan, ada yang mau kerjasama, tapi ada juga yang menolak total. Bagi yang menolak total seperti Neturei Karta tentu menganggap negara israel sebagai “musuh.” Tapi yang lain sikapnya terhadap israel tidak frontal.

Bagaimana respon Zionis? Sebagaimana saya sebutkan, konsep Herzl tentang negara yahudi adalah memisahkan agama dan negara, akan tetapi faktanya beda. Ketika negara israel berdiri tahun 1948, konflik dengan Arab membuat kaum zionis yang umumnya sekuler tidak bisa mengabaikan kaum orthodoks. Kaum zionis mengesampingkan konflik mereka dengan kaum yahudi orthodoks, dan malah merangkulnya. Kaum zionis mau merangkul kaum orthodoks karena mrk menganggap orthodoksi adalah bagian masa lalu yang dengan laju modernitas lama-lama akan lenyap, Artinya, kaum zionis sekuler saat itu meremehkan “kekuatan” kaum yahudi orthodoks.

Di sisi lain, kaum yahudi orthodoks yang menganggap negara zionis sebagai bidah mau dirangkul karena mrk yakin bisa mengubahnya dari dalam. Situasi itulah yang memicu lahirnya perjanjian “status quo” antara kubu zionis sekuler dan orthodoks. Perjanjian “status quo”: kaum yahudi orthodoks mau bersatu dengan zionis sekuler asalkan mereka memegang otoritas dalam urusan keyahudian. Kaum yahudi orthodoks menuntut agar shabbat sebagai hari libur, kekosheran makanan/minuman dan identitas keyahudian jadi wewenang mereka. Selain itu, kaum orthodoks dibolehkan untuk mengelola pendidikannya sendiri, dan mendapat subsidi negara. Bahkan Ben Gurion, perdana menteri pertama, setuju kalo yahudi orthodoks yang hidupnya hanya untuk Torah dan tidak perlu ikut wajib militer. Konsesi-konsesi yg dinikmati kaum orthodoks inilah yg lama-kelamaan berkembang jadi pangkal perseteruan kubu sekuler-agamis di Israel hinga sekarang.

Hal lain yang menjadi persoalan, di kalangan yahudi orthodoks pun berkembang aliran zionisme religius, terutama setelah “Perang 6 Hari. Kemenangan telak Israel dalam perang tersebut yang memungkinkan Israel menguasai West Bank, tempat situs-situs sakral yahudi, seperti Judea dan samarea. Bayangkan saja, selama ribuan tahun bangsa yahudi hidup terpencar-pencar, lalu tiba-tiba bisa menguasai lagi tanah israel secara lengkap.

Situasi inilah yang mendorong sebagian kalangan yahudi ultra-orthodoks untuk memaknai zionisme sebagai bagian dari takdir Tuhan. Kelompok pro zionisme religius ini, Gush Emunim, memaknai negara dan tanah israel sebagai bagian sakral yang tak boleh dikompromikan. Menarik bahwa pemahaman thd judaisme orthodoks bisa memunculkan sikap yang anti zionisme, tapi bisa juga pro zionisme. Problemnya, aliran zionisme religius ini banyak diamini oleh warga israel di tanah pendudukan. Karena itulah persoalan tanah pendudukan jadi isu yang pelik, sebab bercampur dengan keyakinan agama. Inilah yang memicu Judaisasi konflik Israel-Palestina di sebagian kaum orthodoks. Ironisnya, muncul juga “Islamisasi” isu Palestina. Persoalan agamaisasi konflik ini, saya singgung dalam esai saya berjudul : israel, antara Shakespeare dan Chekov http://jakartabeat.net/kolom/konten/israel-antara-shakespeare-dan-chekov

Dari Penjabaran yang panjang ini, kita bisa melihat kompleksitas dan nuansa sikap yahudi orthodoks terhadap zionisme. Nuansa yang beragam juga terdapat pada respon kaum yahudi sekuler terhadap zionisme. Bahkan dalam zionisme juga ada kubu-kubu yang saling benturan. Demikianlah uraian dari saya. Wallahu a’lam bi al-shawab. Sekian.


catatan : Penulis bernama Akhmad Sahal, beliau Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika dan sekarang sedang melanjutkan studi di Harvard Kennedy School.

Kotak

Tadinya aku hendak meneruskan cerita Sabtu Panas di Bulan April. Namun sepertinya terlalu cepat. Aku akan mulai jauh sebelum itu. Sebelum aku duduk manis di depan gadis manis yang gugup di depan laptopnya.

Pernah suatu ketika aku terduduk di dalam sebuah ruangan yang berbentuk kotak. Tak ada pintu, tak ada jendela. Hanya ada sebuah kursi dan meja, di atasnya ada sebuah buku dan pena. Ada satu benda lagi, sebuah perekam suara.

Di dindingnya penuh dengan pigura-pigura. Tak ada satu incipun yang tak tertutup pigura. Semuanya pigura. Ukurannya hampir sama. Rapi. Menutup keempat sisi dindingnya. Mungkin karena itulah aku tak dapat menemukan pintu ataupun jendelanya. Sama sekali tak ada jalan keluar. Aku hanya mampu terduduk di situ dan memandangi langit-langit yang tinggi .

Di langit-langit yang tinggi itu, aku melihat sebuah lampu pijar kecil yang menjadi penerangan di ruangan yang sesak ini. Lampu ini selalu mati saat sudah menyala sekitar 18 jam. Aku tahu karena ada jam butut yang tergeletak begitu saja di atas meja. Aku menemukannya saat kacanya terkena sinar lampu itu. Itulah saat aku mulai menandai waktu.

Sama seperti saat aku menemukan pigura-pigura di dinding itu. Cahayanya yang temaram menerpa pigura-pigura yang sebenarnya membingkai lukisan-lukisan wajah. Wajah-wajah yang tak kukenal namun terasa tak asing.

"Siapakah itu?"

Kadang aku bertanya dalam diriku sendiri. Menerka-nerka siapa mereka. Kadang aku juga sering melontarkan pertanyaan lain seperti,

"Apakah aku mengenali mereka?"

Atau

"Mengapa aku bisa lupa??"

Dan

"Apakah aku terkena amnesia?"

Ah akhirnya aku lelah melontarkan pertanyaan-pertanyaan dalam hati, aku lelah menerka-nerka. Akhirnya aku menuliskan apa yang kurasakan dalam jiwa di lembar-lembar buku tebal yang ada di atas meja.
Buku ini bersampul hitam. Lebih mirip agenda harian daripada buku tulis. Ada bermacam kolom keterangan yang bisa diisi seperti hari-tanggal-dan rencana kegiatan. Dan aku rutin mengisinya tiap hari. Terutama di kolom tanggal. Dan kolom yang kuisi saat ini menunjukkan hari ke 20. Sudah 20 hari aku terkurung di ruangan ini.

Aku tak makan apapun kecuali makanan kaleng di pojokan dan air di keran yang terletak di pojok ruangan sana. Sebenarnya pojok ruangan sebelah kiri sana agak mirip dapur. Ada wastafel dengan keran, sebuah meja dapur layaknya meja dapur di dapur rumah, lengkap dengan satu set perlengkapan makan yakni gelas, piring dan sendok serta garpu. Dapur ini juga dilengkapi dengan kompor gas yang aku tak pernah tahu darimana asal gasnya. Dia selalu menyala saat kunyalakan dan mati saat kupadamkan. Layaknya kompor gas biasa, namun tak memiliki selang atau apapun yang menghubungkan dengan gas. Ya. Hanyak kompor gas biasa. Kompor ini menempel di tembok. Menutup sebagian pigura.

Makanan kaleng tertata rapi di dalam lemari dinding kecil. Makanan kalengnya juga tak buruk, ada buah kaleng, sayur-mayur kaleng, nata de coco, kornet, sarden dan ada juga makanan kering seperti biskuit, wafer dan pai kering. Semuanya tertata rapi di dalam lemari kecil itu. Mungkin yang agak aneh hanyalah makanan-makanan ini tak pernah habis. Seolah ada yang mengisinya saat aku tidur.

Memang ajaib, namun inilah kotak yang mengurungku. Aku tak pernah merasa kesulitan selama hampir 20 hari di dalam kotak ini. Aku tak pernah bosan memandangi lukisan-lukisan, tak pernah bosan menulis, dan tak pernah bosan melihat lampu temaram. Bahkan untuk keperluan buang air, ada sebuah kloset di tepi dapur. Kloset ini juga entah mengapa selalu bersih.
Aku tak pernah tahu. Namun aku merasa nyaman. Hingga beberapa lukisan mulai berbicara padaku. Tentang hal-hal di luar perkiraan dan pengalamanku. Sungguh ajaib. Namun itulah hari dimana aku mulai merasa tak nyaman. Sesak. Hingga aku merasa harus keluar dari ruangan. Hingga aku merasa ada yang menungguku. Mungkin gadis manis yang duduk gugup di depanku pada Sabtu panas di bulan April adalah salah satunya.
Ya. Aku harus keluar. Namun bagaimana caranya. Akupun kembali menatap langit-langit dengan lampu pijar yang menebar cahaya temaram. Kembali menatap lukisan-lukisan yang berbicara tentang hal-hal.

"Bagaimanakah caraku keluar dari ruangan tak berpintu ini?"tanyaku akhirnya pada lukisan-lukisan itu.

"Berusahalah"

Demikian kata salah satu lukisan itu.

Tatal 17

Ada seorang pemilik toko buku yang hidup dalam kesepian dan kemarahan yang diam. Ia tinggal di sebuah negeri yang kini menyebut diri “Komunitas Iman.”

Para pemuda Ikhwanul Waspada muncul ke mana-mana, merusak alat musik, membakar film berpuluh-puluh rol, merobek kanvas lukisan, menghancurkan patung—dengan keyakinan bahwa keindahan hanya ada di Tuhan, dan tak ada di bumi yang layak menyaingi wajah-Nya.

Itulah pangkal masygul Boualem Yekker, tokoh novel Le Dernier été de la Raison (Musim Panas Terakhir Akal Budi) ini, dan ia terpojok, ia terkucil. Sejak kecil, sejak ia belajar di madrasah yang ketat mengajarkan Quran, ia ingin berjalan ke pelbagai tempat di muka bumi.


Ia tahu: di jam-jam itu, yang sepenuhnya diabdikan untuk memuja sang Kebenaran, ia terpisah dari sebuah semesta yang bersahaja, yang juga berbahaya, di mana bunyi yang bermain-main terdengar bersama suara mobil yang berjalan jauh, hewan-hewan yang ganjil, dan kapal yang melenguh menuju ke laut lepas …

Kini ia jadi tua, dan Boualem Yekker kian tahu ia tak bisa diterima dan menerima orang-orang di luar toko bukunya, orang-orang yang merasa telah dibentuk bulat utuh oleh sang Teks. Konflik pun menghadang …

Tapi kita tak akan tahu bagaimana novel ini berakhir. Pengarangnya, Tahar Djaout, penyair dan novelis Aljazair yang tinggal di Bainem, diserang sejumlah pembunuh pada 26 Mei 1993. Ia mati. Naskah novel setengah jalan ini ditemukan di antara tumpukan kertas di kamarnya, dan diterbitkan di Prancis di tahun 1999. Salah satu pembunuhnya kemudian menyatakan bahwa Djaout dihabisi karena ia memainkan pena yang menakutkan.

Djaout: seraut pena kecil. Bila ia dianggap menakutkan mungkin karena orang-orang saleh di Aljazair itu tahu, hasrat untuk menghela manusia ke dalam iman yang sempurna selalu limbung.

Tiap pena kecil jadi isyarat bahwa ada yang lain dari kesempurnaan. Maka ia menulis puisi, membawakan nyanyi, membentuk garis, menerakan warna, mengundang Yang Indah singgah, tahu bahwa Yang Indah bukan puisi, bukan nyanyi, bukan garis, bukan warna.

* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 32-33 .