Kudaki gunung ini karena kucari sebuah jawaban. Jawaban apa? Aku sendiripun tak tahu pasti. Hanya Tuhan yang tahu. Dia memang Maha Tahu, aku tidak.

Terlalu banyak yang berseliweran dalam pikiranku ini, ada kalanya, aku merasa tak mampu lagi mengungkapkannya dalam doa. Hal -hal yang melekat dalam pikiran ini, bersatu padu menciptakan rasa-rasa yang tidak jelas dalam hati dan jiwa.

Ketidaktenangan, kecemasan dan keraguan yang aku tak mengerti tentang apa ini, aku tak mampu ungkapkan padaNya. Aku tak mampu merangkainya menjadi doa. Karena itu biarlah, Dia Yang Maha Tahu, membaca isi hatiku dan mengabulkan apa yang paling kubutuhkan, bukan kuinginkan.

Rasa ragu, cemas dan tidak tenteram dalam jiwa, muncul karena aku sebagai manusia biasa, tak mampu melihat apa yang akan terjadi, bahkan dalam satu detik kedepan. Semua serba tak pasti, kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.

Mama Lauren, masih ingatkah? Paranormal yang meramalkan akan terjadinya kiamat pada tahun 2012? Ia mengatakan sudah tak mampu lagi menerawang ke waktu tersebut. Ia berucap,

"Aku melihat kegelapan, mata batinku tak mampu lagi menembusnya"

Ternyata, paranormal itu mati pada tahun 2010. Jelas saja ia tak mampu melihat ke tahun 2012. Melihat kematiannya saja ia tak mampu. Memang hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Itulah manusia, ia hanya bisa melangkah dengan getar gemetar. Ragu. Aku salah satunya. Aku yakin dengan satu hal, kemudian ragu dengan hal lain. Kemudian kudaki gunung.

Gunung ini, lembah ini, sudah delapan kali kujejakkan kaki di atasnya, sudah delapan kali kupandangi Igir Gemuruh-nya. Sudah sering kuhirup segar udaranya dan ia juga sudah sering memanjakan mataku dengan bunga-bunga edelweissnya. Namun, yang sedari dulu kucari tak kunjung kutemu, ia masih menjadi semacam bayang-bayang halimun senja.

Kali ini, ia kembali kudaki, bersama sahabat-sahabatku, ku bermaksud untuk mencari jawaban atas keraguan-keraguan yang tak kutahu atas apa.

Aku hanya mencari ketenangan yang tak kunjung juga kutemui. Mungkin sudah saatnya aku benar-benar mengetuk pintuMu, Allah.

Lembah Suryakancana
29 September 2014
08.00
-priapenekunremahroti-

Jalan mana yang akan kau pilih??

Kupikir dan kupikir lagi, kisah hidup anak manusia ini sedemikian menarik. Anak-anak yang seharusnya kuat ini, kadang menjadi lembek oleh getaran-getaran halus dalam dada.

Padahal ada Tuhan dalam dada!

Dan anak-anak manusia ini masih saja merengek,

"Tuhan, mengapa engkau cobai aku sebegini rupa? Apa salah hamba?"

Memang sudah kodrat manusia untuk mengeluh dan merengek, itu adalah tanda mutlak ia membutuhkan Tuhan, namun bukankah ia akan lebih baik lagi jika bersabar dan menunggu ilham dariNya? Daripada menggaruk tembok dan mencakar muka?

Tiap-tiap kejadian pasti ada maksud dan tujuannya, hanya kita harus bersabar untuk mengetahui Tujuan Mulia Tuhan. Alangkah beruntung orang-orang yang mengelus dadanya, menarik nafas panjangnya, dan berkata,

"Terima kasih Tuhan, engkau masih cobai aku, engkau masih hukum aku, itu artinya engkau masih sayang dan perhatian padaku"

Tiap-tiap anak manusia memiliki garis takdirnya masing-masing. Islam menyebutnya Qadha dan Qodar. Ada yang bisa diubah, dan ada yang tidak.

Mari kita bicara soal yang bisa diubah, tentang ini, aku justru lebih menyukai istilah, Tuhan memberikan kita pilihan. Bagaimana bisa? Bukankah Allah Maha Tahu jalan mana yang akan kita ambil?

Jadi dalam persimpangan, Tuhan sudah menentukan jalan kita, namun Ia memberikan kita pilihan, apakah kita akan memilih jalan yang kurang tepat dahulu, untuk kemudian mengetahui kesalahan, introspeksi, dan kembali ke jalan yang benar, atau kita akan langsung memilih jalan yang benar, karena semeragukan apapun kita rasakan petunjuk Tuhan, itulah petunjukNya, dan kita wajib untuk meyakininya bagaimanapun juga.

Dan Tuhan selalu Maha Pengasih, Ar Rahmaan selalu memberikan kita jakan kembali kepadaNya, ketika kita luput dengan pilihan kita. Ia selalu datang untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bahwa kita sedang menuju jalan yang salah. Itulah, bentuk rasa kasih sayang Allah kepada kita, umat Manusia.

Itulah Takdir! Kita lah yang akan menjalani takdir kita, dengan ribuan pilihan yang akan kita ambil dengan jutaan tanda tanya di depan mata.

"Hidup adalah soal Keberanian, Menghadapi yang Tanda Tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah!"

Itu kata Soe Hok Gie, kalau kataku,

"Keraguan lebih membunuh mimpi daripada kegagalan. Karena hidup kita berawal dari mimpi"

-priapenekunremahroti-
-26/09/2014-

p

Takdir (kah?)

"Seharusnya tidak begini", kata itulah yang terngiang dalam benakku saat ini.

Kemudian lagu Opick berjudul “Takdir” mengalun pelan mengiringinya, syahdu, sedih dan mataku pun mulai panas. Aku pelan-pelan mulai berkaca-kaca. Sudah cukup lama aku tidak merasakan sensasi ini, dada yang sesak, mata yang panas, seolah ada sesuatu yang ingin menyeruak dari rongga dada, namun tak sanggup. Tertahan.

Takdir, mungkin kata itu yang cocok untuk disematkan untuk membungkus kejadian beberapa hari ini, apa lagi namanya kalau bukan itu, aku sudah tak mampu lagi mencarinya.

Dia yang kusayangi, entah mengapa tiba tiba hanya mendekat lalu pergi lagi, demikian jauhnya hingga aku tak mampu menggenggamnya lagi.

Dia mendekat begitu dekat, seolah meyakinkanku bahwa ia sungguh milikku, untuk kemudian pergi, apakah aku demikian bodoh hingga salah menafsirkan bahwa ini hanyalah salam perpisahan?

Kami begitu dekat, hingga tiap jiwa mampu merasai yang jiwa lain rasakan. Begitulah kedekatan kami. Tinggal disatukan saja.

Namun memang aku selalu terlambat, terlambat untuk menyadari, terlambat untuk mengikat erat, hingga ia direnggut dari sebelahku, tanpa kusadari, bahkan salam perpisahan pun luput kutafsirkan.

Kini, mungkin memang tinggal berkata,
“Mungkin ini takdir, mungkin ini kehendak Allah yang harus kita jalani”

Ya itu katamu, sayangku, memang demikian adanya. Sulit, sesak, dan pedih. Namun beginilah adanya.

Pesanku padamu, sayangku, hanya satu, jangan pernah ragu, jangan hanya karenaku engkau menjadi ragu, pria bodoh yang tak kunjung bangun saat engkau yang berada di sebelahku pergi, mungkin tak pantas untuk menemanimu hingga esok nanti.

Pria bodoh ini cuma bisa berpesan, jangan pernah ragu dengan pilihanmu, sayangku, pilihanmu hanya untuk sekali dan selamanya. Mantaplah, kuatlah, yakinlah. Jika tak kunjung juga, mengadulah pada yang Maha Perkasa, mintalah padaNya untuk membuatmu tegak menapak bumi, tegak menatap langit. Keyakinanmu menentukan bagaimana jalan di depanmu, bagaimana mimpi yang akan kau raih bersamanya.

Karena aku selalu yakin, sayangku, bawasanya keraguan lebih mematikan mimpi daripada kegagalan sekalipun. Jadi, yakinlah, mimpi-Mimpimu baru akan dimulai, yakinlah dengan pilihanmu, karena dia yang akan membimbingmu, menjadi lenteramu dalam mengarungi lautan luas kehidupan….

Dan aku, ya mungkin aku hanya akan termenung dan menyesali kebodohanku. Tepekur menatap semut-semut yang memakan remah roti.